Mengapa Trump, Presiden Amerika Serikat, Mengagumi Ahmed Al Sharaa, Presiden Suriah?

 Mengapa Trump, Presiden Amerika Serikat, Mengagumi Ahmed Al Sharaa, Presiden Suriah?

Saya kira, tidak seorang pun yang tidak mengakui bahwa sebelumnya para pemimpin Amerika memandang Ahmed Al Sharaa, kini Presiden Suriah, merupakan musuh besar mereka. Namun setelah Al- Sharaa sukses menjatuhkan Bashar al-Assad, melalui suatu serangan militer yang berdampak revolusioner pada susunan kekuasaan negara strategis tersebut, situasi menjadi berubah.

Tentu banyak faktor yang mengubah sikap Amerika tersebut terhadap Al- Sharaa. Namum ada satu hal sangat penting untuk tidak dilewatkan sebagai sorotan. Dua kali Presiden Trump mengungkapkan rasa kagumnya pada Al-Sharaa. Mari kita simak kembali ucapannya sebagaimana yang bertebaran di media.

Ketika Al-Sharaa mengunjungi Trump di Gedung Putih, pada 10 November 2025, Donald Trump menyatakan dengan terus terang, ciri khas Amerika, “Ia berasal dari lingkungan yang keras, dan ia sendiri sosok yang tangguh. Saya menyukainya.”

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2025/11/11/121500665/untuk-pertama-kalinya-presiden-suriah-bertemu-donald-trump-di-gedung-putih?page=all.

Ini bukan pernyataan yang datang dari mulut umumnya politisi Indonesia, yang suka memuji, dengan maksud supaya diterima dan diapresiasi sebagai bagian dari kelompok yang didatangi.

Sebelum peristiwa 10 November 2025 itu, di atas pesawat yang membawanya ke Qatar hari Rabu, 14 Mei 2025, Trump juga memuji Al-Sharaa yang bertemu dengan dia di Arab Saudi, dan katanya “al-Sharaa adalah pemimpin sejati, dia memimpin revolusi dan dia luar biasa,” menambahkan bahwa presiden Suriah adalah “seorang pria muda yang menarik dan seorang pejuang dengan masa lalu yang sangat kuat, dan dia memiliki peluang nyata untuk menjaga persatuan Suriah.”

Pertanyaannya, kenapa Trump bisa bersikap pribadi demikian? Apakah hal ini sekedar fenomena pragmatisme politik?

Ada baiknya kita dapat meninjau hal ini dari sudut pandang psikologi. Dalam dunia psikologi, seseorang bisa diam-diam mengagumi musuhnya. Itu hal yang lumrah. Fenomena ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

*Penjelasan Psikologis*

Beberapa konsep psikologis yang relevan untuk menjelaskan hal ketika seseorang yang tadinya bermusuhan lalu kemudian bersimpati dan mengangumi lawannya, yaitu;

• Identifikasi dengan Agresor (Identification with the Aggressor): Ini adalah mekanisme pertahanan psikologis di mana seseorang yang merasa terancam oleh agresor mulai meniru perilaku, nilai, atau sifat-sifat agresor tersebut. Ini dilakukan secara tidak sadar untuk mengurangi kecemasan dan perasaan tidak berdaya yang ditimbulkan oleh ancaman tersebut.

• Sindrom Stockholm (Stockholm Syndrome): Meskipun lebih spesifik pada situasi penyanderaan, sindrom ini menggambarkan ikatan psikologis afektif yang tidak rasional yang terbentuk antara sandera dan penyanderanya. Korban mulai bersimpati dan bahkan mengagumi penyanderanya sebagai mekanisme bertahan hidup.

• Kekaguman akan Kekuatan/Dominasi: Dalam beberapa kasus, kekaguman muncul dari pengakuan akan kekuatan, keterampilan, atau dominasi yang dimiliki oleh musuh. Seseorang mungkin mengagumi atribut-atribut ini bahkan jika mereka menentang tujuan atau ideologi musuh tersebut. Ini bisa menjadi bentuk pragmatisme atau realisme, mengakui keunggulan lawan.

• Narsisme Kolektif atau Ego: Musuh terbesar manusia seringkali adalah ego mereka sendiri. Terkadang, kekaguman terhadap musuh dapat mencerminkan proyeksi kualitas atau potensi diri sendiri yang tidak disadari atau tertekan ke pihak lawan.

Saya kira dalam kasus tulisan ini, bisa jadi Trump terkena fenomena yang ketiga dan keempat di atas.

Terutama sekali, Trump merasa aspek kepribadian dirinya sebagian terpantulkan pada kepribadian Al-Sharaa, sehingga sebenarnya dia tengah mengagumi dirinya sendiri. Terutama sifat superior yang memang sangat digandrungi oleh Trump. Lalu bagaimana akibatnya kemudian pada hubungan Amerika Serikat dengan Suriah secara khusus, dan Islam secara umum, tentu akan berdampak juga.

Wallahua’lam bisshowab.

 

Facebook Comments Box