80 Tahun Nasionalisme Memusat dan Kapitalisme Menghisap, Telah Merusak Identitas Primordial Lokal Kita

 80 Tahun Nasionalisme Memusat dan Kapitalisme Menghisap, Telah Merusak Identitas Primordial Lokal Kita

 

Seseorang yang pernah tumbuh dan mengalami riang gembira kehidupan di kampung halamannya, dengan kenangan bersama keluarganya, teman-teman sebayanya, mengingat lagu-lagu lokal di kampung halamannya, merasakan efek bahasa dan pergaulan indah di masa kecilnya, akan otomatis menjadi pembentuk jiwa, mentalitas dan identitas dirinya. Semua elemen pengalaman hidup yang membentuk lapisan-lapisan susunan kesadaran alami tersebut, amatlah tak ternilai harganya bagi perkembangan emosi, pikiran dan kejiwaan seseorang.

Harusnya emosi, pikiran dan kejiwaan yang terbetuk dengan memakan waktu yang tidak sedikit dan terjadi secara kompleks dan khas tersebut, terjamin keberadaannya, bebas berkembang subur dan tidak mengalami pengebirian, apalagi sampai mengalami pencegahan dan penyangkalan atas nama arus besar nasionalisme memusat dan ganasnya kapitalisme yang mengukur nilai manusia sekedar angka kuantitatif dan kebermanfaatan materialistik pada urusan konsumsi, pasar, dan produksi.

Tetapi itulah yang terjadi selama ini. Selama 80 tahun. Betapa besarnya kerugian kebudayaan yang ditimbulkan oleh hegemoni nasionalisme dan kapitalisme yang disponsori oleh negara ini. Berapa banyak ungkapan, kata, memori, permainan tradisional, teknik hidup, kejeniusan lokal dan produk-produk budaya lokal yang luhur, lenyap tak terelakkan. Kepribadian orang-orang lokal pun terhegemoni oleh orang pusat dan akhirnya lebur dan hilang, sekaligus mencerabut akar-akarnya.

Saya kadang-kadang untuk memulihkan emosi, pola pikir dan jiwa lokal yang luhur dan berharga agar tidak lama-lama terkikis, lenyap dan terasing, yaitu mengusahakan kontak dengah teman-teman selatarbelakang budaya dan menikmati lagu-lagu lokal yang indah dan menyegarkan hati. Hanya itu.

Di kota seperti Jakarta ini, tempat kekuasaan nasionalisme Indonesia yang memusat dan melumat hal-hal yang tidak cocok bagi ukuran-ukuran proyektif nasionalisme dan kapitalisme yang begitu massif dan kasar beroperasi, mengakibatkan lokalitas rasa-rasanya menjadi aksesori yang dianggap antik saja. Tak lebih.

Bagaimana pun, lokalitas harus diarusutamakan setelah 80 tahun berjalan memusat. Betul, jenuh dan muak juga merasakan terus menerus supremasi nasionalisme dan kapitalisme yang tidak pernah diistirahatkan propogandanya oleh negara. Setidaknya, supaya manusia-manusia yang pernah diasuh oleh kampung halamannya dengan kenangan-kenangan dan efek emosi dan kejiwaan yang tetap melekat, dapat berkembang bebas dan subur tanpa kehilangan sanubarinya. Orang-orang urban dan kosmopolit, harusnya menyadari betapa bernilainya mereka yang hidup dengan kekayaan pengalaman masa lalunya, nun di kampung halamannya itu.

 

*~ Bhre Wira*

Facebook Comments Box