Cuan Haji dan Neo Imperialisme Amerika

 Cuan Haji dan Neo Imperialisme Amerika

10 tahun yang lampau, saya pernah menulis di koran Republika, guna mengungkap betapa besar dan potensialnya perputaran uang yang terjadi di sektor haji dan umroh. Tulisan itu dimaksudkan untuk mendorong dipisahkannya urusan haji dari wewenang Kementerian Agama karena selalu saja menjadi bancakan dan objek korupsi para pejabat, lalu kemudian lahirlah Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH). Setelah BPKH berjalan, rupanya kini Kementerian Haji dan Umrah pun malah diperlukan berdiri terpisah secara total dari Kemenag oleh adninistrasi pemerintahan Prabowo – halmana satu dekade yang lalu gagasan ini masih jauh kenyataan.

Baca : Perspektif Ekonomi Haji | Republika Daring https://share.google/XjtEDQpNuYCoa5vGB

Memang pendapatan dari sektor haji dan umroh ini luar biasa besarnya. Karakteristiknya pun sangat menggiurkan, karena ada faktor daftar tunggu akibat kran kuota haji yang dimainkan sedemikian rupa mulai dari tingkat Arab Saudi hingga Kemenag Indonesia, faktor paksaan kewajiban religius – jadi bukan sekedar pariwisata sehingga membuatnya sumber ekonomi yang kekal hingga kiamat, faktor pertumbuhan populasi penduduk, faktor peningkatan ekonomi, faktor infrastruktur dan kemudahan transportasi, faktor gaya hidup, walhasl setidaknya kesemua faktor itu membuat sektor ekonomi yang unik ini, yang hanya bersumber dari subjek umat Islam ini, membuatnya lebih pasti sebagai sumber ekonomi multi efek dan lebih amazing daripada sektor migas dan tambang. Dan Arab Saudi, menyadari sekaligus memanfaatkan betul aspek ekonomi haji ini.

Bagaimana Cuan Haji Mengalir ke Amerika

Yang jelas, salah satu sumber pendapatan Arab Saudi selain sektor migas, yaitu Haji dan Umrah. Menurut laporan Future Market Insights ditunjukkan bahwa industri pariwisata Haji dan Umrah di Arab Saudi diperkirakan bernilai US$171,41 miliar pada 2024 atau sekitar Rp 2.752,84 triliun.  Nilai ini kemungkinan akan berlipat ganda menjadi US$343,55 miliar pada 2034. Nyaris setara dengan total pendapatan Indonesia yang ditargetkan dalam APBN 2024 yakni Rp 2.802,3 triliun, termasuk dari pajak dan non-pajak.

Baca: “Wisata Arab Saudi Cuan Rp 2.700 T dari Haji, Setara Pendapatan RI!” selengkapnya di sini: https://www.cnbcindonesia.com/research/20240528034005-128-541623/wisata-arab-saudi-cuan-rp-2700-t-dari-haji-setara-pendapatan-ri

Seorang pengamat dari Bahrain menyatakan, bahwa sektor ekonomi abadi bagi Arab Saudi bukan migas dan lain-lain, tetapi haji dan umroh. Selama umat Islam di seluruh dunia patuh pada perintah agama untuk menunaikan haji, minimal sekali seumur hidup, maka Arab Saudi selamanya banjir cuan dari kegiatan yang bernilai ekonomi tinggi tersebut.

Barangkali, itulah sebabnya pendekatan dan model berpikir Islam di Arab Saudi yang bersifat skripturalis, mendorong kepatuhan pribadi tanpa reserve dan mencegah liberalisme terus diekspor ke seluruh dunia Islam, karena memiliki dampak bagi jaminan kelanggengan peningkatan aktivitas haji dan umroh ke Arab Saudi yang muaranya dapat mengalir menjadi cuan bagi Arab Saudi. Kalau seorang muslim patuh dan selalu bertekad melakukan perjalanan ibadah haji atau pun umra ke Arab Saudi, maka Arab Saudi memperoleh manfaak ekonomi, mulai dari visa, hotel, ongkos pesawat, makan dan minun, aneka layanan, ongkos transportasi selama di Arab Saudi, hingga belanja oleh-oleh dari Arab Saudi.

Tentu saja pundi-pundi besar dan liquid yang berasal dari bisnis pariwisata haji dan umrah tersebut, akan dimanfaatkan oleh Arab Saudi bagi kepentingan keamanan dan kelanggengan monarki tersebut, di antaranya ialah membangun hubungan simbiosis dengan Amerika Serikat yang selama ini bertindak sebagai patron dan juru pengamanan dan pertahanan bagi Arab Saudi. Belanja alutsista dan sistem pertahanan Arab Saudi dominan dibeli dari Amerika Serikat, menjadikan Arab Saudi sebagai klien terbesar Amerika Serikat. Demikian juga kebutuhan-kebutuhan pembangunan industri migas negara yang ditakdirkan sebagai pusat kunjungan ibadah umat Islam ini.

Berdasarkan posisi tersebutlah, tidak mengherankan jika baru-baru ini, Raja defacto Arab Saudi, Muhammmad bin Salman dalam kunjungan strategisnya ke Gedung Putih, pusat kekuasaan Amerika Serikat, turut membawa janji pengucuran dana sebesar 1 triliun dollar amerika, setara Rp 16.743 triliun. Jumlah itu melampui 5 kali APBN Indonesia, dan entah berapa kali anggaran Prabowo untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Liputan atas kunjungan MBS tersebut sarat high profil, dikemas seolah-seolah menempatkan Trump sebagai klien MBS, padahal sebaliknya. Arab Saudi hanyalah negara yang tergantung pada jasa keamanan dari Amerika dan tidak bisa swasembada produk-produk industri dasar. Arab Saudi hanya mengolah pengaruh keuangannya, produk migasnya, dan tambang abadinya pada ekonomi haji.

“Saya yakin, Tuan Presiden, hari ini dan besok kita dapat mengumumkan bahwa nilai 600 miliar dolar itu akan meningkat menjadi hampir 1 triliun dolar untuk investasi nyata,” ujar Mohammed bin Salman, atau MBS, kepada wartawan di Gedung Putih saat tampil bersama Presiden AS Donald Trump.

Dia mengatakan kedua negara akan menandatangani berbagai kesepakatan di sejumlah sektor, termasuk teknologi kecerdasan buatan (AI), dan industri menarik, yang menurutnya akan membuka banyak peluang investasi.

Trump yang berada di sampingnya menyela, “Sekarang Anda mengatakan kepada saya bahwa 600 miliar dolar itu akan menjadi 1 triliun dolar?”

“Tentu, karena apa yang kita tandatangani akan memungkinkan hal itu,” jawab MBS.

Baca: Arab Saudi akan tingkatkan investasi di AS jadi hampir USD1 triliun https://share.google/yXTx0fsk0qEUHDAGJ

Kesimpulan

Jadi kesimpulannya, neo imperialisme Amerika itu nyata. Amerika tak perlu mengambilalih negara-negara muslim sebagai jajahannya secara langsung seperti praktik imperialisme kuno. Cukup kontrol Arab Saudi, terutama politiknya. Goyang sedikit stabilitas dan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, biar negara-negara yang bersaing, tegang dan berkonflik, terpaksa memborong produk senjata, teknologi hingga keahlian Amerika Serikat.

Yang paling sial malah negara seperti Indonesia. Dia dieksploitasi Arab Saudi dengan ekonomi haji dan umroh, Arab Saudi dieksploitasi Amerika dengan permainan geopolitik.

Jadi, Indonesia menyumbang dana besar buat Arab Saudi melalui mobilisasi dan fasilitasi rakyat untuk haji dan umroh yang tiap tahun dibuat senantiasa genting dan krusial managemen kuotanya oleh Kemenag dan Arab Saudi, dan dana besar itu kemudian masuk ke dalam skema pembiayaan keamanan dan pertahanan monarki tersebut dengan mengeluarkan belanja kepada Amerika Serikat, termasuklah investasi 16.743 triliun rupiah yang dinyatakan oleh MBS di Gedung Putih tersebut.

Sebenarnya Indonesia dapat bertindak membatasi jumlah jamaah haji ke Arab Saudi dengan melarang haji berkali-kali oleh seorang individu, yang biasanya melalui skema haji khusus (furoda) dan mendorong dana yang bersangkutan dilimpahkan kepada kerabat atau orang yang menginginkan haji tapi terkendala finansial, tapi alih-alih melakukan hal itu, pihak pemerintah yang berwenang malah memompa masyarakat untuk berlomba frekuensi perjalanan haji. Sebab, hal ini sudah menjadi sektor bisnis yang mengakar dan berjejaring secara koruptif sedemikian rupa. Tentu saja Arab Saudi sangat diuntungkan dengan demand yang demikian tinggi untuk bisnis haji dan umroh ini, dan ujungnya, Amerika Serikat mendapatkan keuntungan tidak langsung dari realitas ini.

Bhre Wira, Pengamat Keislaman

Facebook Comments Box