Pamanku, Guru Spiritualku: Mengenang Alm. KH. Nadjamuddin Marzuki
Oleh Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)
Alm. KH. Nadjamuddin Marzuki… bukanlah sekadar sosok yang pernah hidup dalam sejarah keluarga kami, tetapi sebuah jiwa besar yang kini hidup dalam denyut kesadaran kami.
Ia tidak pergi seperti orang-orang biasa pergi, sebab kepergiannya tidak menyisakan kekosongan, melainkan meninggalkan gema, gema nilai, gema keteladanan, gema perjuangan, dan gema cinta yang tidak pernah benar-benar padam.
Mengenangnya bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi menyentuh kembali inti dari makna hidup itu sendiri. Setiap kali nama beliau disebut, hati ini seperti ditarik ke satu ruang batin yang sunyi, dalam, dan penuh getar, seolah ada suara lembut yang mengajarkan kembali tentang keberanian, keteguhan, keikhlasan, dan kesabaran tanpa batas.
Sejak usia belia saya di tahun 70-an hingga 80-an, beliau tidak pernah mengajar dengan teori, tetapi dengan laku hidup. Beliau tidak membentuk mental dengan ceramah panjang, tetapi dengan keteladanan yang diam-diam namun menghujam.
Dari beliaulah saya mengenal makna syuja’ah (keberanian) yang tidak gaduh, keberanian yang tidak mencari sorak, keberanian yang tidak haus pengakuan. Keberanian yang tumbuh dari iman dan keyakinan, bahwa hidup harus dijalani dengan kejujuran, keteguhan, dan kesediaan untuk jatuh, bangkit,
lalu berjalan lagi. Pada tahun 90-an, terjadi resonansi batin yang tak bisa dijelaskan dengan logika, sebuah perjumpaan ruhani antara nilai beliau dan jiwa saya.
Sejak saat itu, keberanian untuk mencoba, untuk gagal, untuk berjuang tanpa kenal menyerah, menjadi bagian dari struktur batin saya, bukan sekadar sikap luar, tetapi identitas dalam.
Beliau mengajarkan bahwa berbeda pendapat bukan alasan untuk membenci, bahwa perdebatan bukan alasan untuk memutus silaturahmi, bahwa kebenaran tidak lahir dari suara paling keras, tetapi dari hati paling jujur.
Dalam cara beliau berdialog, saya belajar bahwa empati lebih tinggi nilainya dari ego, bahwa musyawarah lebih mulia dari dominasi, bahwa integritas lebih berharga dari kemenangan, dan bahwa berpikir kritis adalah bentuk ibadah intelektual.
Beliau tidak mendidik saya menjadi manusia yang ingin menang, tetapi manusia yang ingin benar. Tidak membentuk saya menjadi sosok yang ingin diakui, tetapi pribadi yang ingin berguna.
Memasuki tahun 2000-an, pelajaran beliau semakin dalam dan semakin sunyi. Ia mengajarkan kepemimpinan yang tidak memamerkan kuasa, tetapi memikul beban. Kepemimpinan yang tidak menjadikan orang lain sebagai korban, tidak menjadikan manusia sebagai eksperimen, tidak menjadikan umat sebagai alat, tetapi menjadikan diri sendiri sebagai pelayan.
Ia mengajarkan bahwa pemimpin sejati harus berpikir jauh ke depan, matang secara rasional, seimbang secara emosional, peka secara sosial, dan kokoh secara spiritual.
Bahwa kepemimpinan tanpa nurani hanyalah kekuasaan kosong, dan kekuasaan tanpa iman hanyalah kehancuran yang ditunda.
Dalam kehidupan sosialnya, beliau adalah manusia yang hadir sebagai solusi. Tidak banyak bicara, tetapi banyak bekerja. Tidak banyak simbol, tetapi banyak substansi. Tidak mencari panggung, tetapi membangun kehidupan.
Kepeduliannya nyata, bantuannya konkret, pengabdiannya faktual. Ia membantu tanpa mengumumkan, memberi tanpa mendokumentasikan, berjuang tanpa mempublikasikan.
Kesabarannya bukan retorika, keikhlasannya bukan slogan, dan imannya bukan ornamen. Ia tidak hipokrit, tidak oportunis, tidak menjadikan agama sebagai topeng, dan tidak menjadikan manusia sebagai tangga.
Hari ini, ketika beliau telah kembali kepada Allah, kesedihan itu bukan hanya karena kehilangan seorang paman, tetapi karena dunia kehilangan satu jiwa yang hidupnya sepenuhnya bermakna.
Kesedihan itu bukan sekadar karena wafatnya jasad, tetapi karena kita kehilangan satu cahaya penunjuk arah. Namun pada saat yang sama, air mata ini bercampur dengan rasa syukur yang dalam, karena beliau tidak pergi tanpa warisan.
Kini hampir ratusan cucu dan cicit beliau tersebar di berbagai penjuru negeri, sebagian besar mengabdikan diri dalam pembinaan umat dan pendidikan karakter manusia. Para santri, anak binaan, dan murid-muridnya hidup dengan satu luka yang sama, luka rindu kepada seorang guru yang tidak tergantikan.
Mereka tidak mampu melupakan kebaikannya, karena kebaikannya bukan kenangan, tetapi jejak yang membentuk jalan hidup mereka.
Nama KH. Nadjamuddin Marzuki bukan sekadar nama dalam silsilah keluarga, tetapi dokumen moral yang hidup. Ia bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi bagian dari masa depan. Ia tidak hanya membentuk generasi, tetapi membentuk arah peradaban kecil dalam lingkaran umatnya.
Dan kini, setiap langkah baik yang lahir dari cucu-cucunya, dari santri-santrinya, dari anak-anak binaannya, adalah perpanjangan hidup beliau. Setiap karakter yang tumbuh, setiap jiwa yang tercerahkan, setiap manusia yang menjadi lebih baik karena nilai yang beliau tanamkan. itulah kehidupan beliau yang sebenarnya.
Paamanku… engkau tidak mati. Engkau berpindah dari tubuh ke nilai, dari jasad ke makna, dari dunia ke kesadaran kami. Engkau hidup dalam keberanian kami, dalam prinsip kami, dalam keteguhan kami, dalam doa kami, dan dalam arah hidup kami. Dan setiap kali air mata ini jatuh saat namamu disebut, itu bukan sekadar kesedihan, tetapi cinta.
Bukan sekadar duka, tetapi syukur. Bukan sekadar kehilangan, tetapi pengakuan bahwa pernah hidup seorang manusia yang kehadirannya membuat dunia menjadi tempat yang lebih bermakna.
Kini engkau benar-benar pergi… meninggalkan istri yang setia, anak-anak yang kehilangan sandaran, keponakan yang kehilangan panutan, cucu dan cicit yang kehilangan cahaya, para santri yang kehilangan guru, dan kami semua yang kehilangan arah pulang.
Saat jasadmu diusung, bukan hanya tubuh yang bergerak menuju liang lahat, tetapi cinta, kenangan, dan doa yang mengalir bersama langkah-langkah air mata. Tangis itu bukan jerit kehilangan semata, melainkan luapan rindu yang tak sempat diucapkan, cinta yang tak sempat dirangkum, dan syukur yang tak sempat terucap satu per satu.
Senyummu yang selalu ramah kepada siapa pun kini tinggal jejak di ingatan. Nasihatmu yang lembut kini hidup sebagai suara batin. Kepedulianmu yang nyata kini menjadi warisan yang tak tergantikan.
Engkau pergi tanpa gaduh, tetapi meninggalkan sunyi yang dalam. Sunyi yang terasa di dada, sunyi yang bergetar di jiwa, sunyi yang membuat hati belajar makna kehilangan yang sesungguhnya.
Semoga Allah memelukmu dengan rahmat-Nya, meluaskan kuburmu dengan cahaya-Nya, dan mengangkat derajatmu bersama para hamba-Nya yang ikhlas. Semoga surga Firdaus menjadi rumah kembalimu, tempat lelahmu berakhir dan cintamu disempurnakan. Dan semoga kami yang ditinggalkan, tetap setia menjaga nilai-nilai yang engkau tanamkan, agar namamu terus hidup dalam amal, doa, dan kehidupan kami.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab