Matinya Spirit Gerakan Islam di Indonesia?

 Matinya Spirit Gerakan Islam di Indonesia?

Saya berbincang cukup lama dengan Dr. Syifa Amin W, akademisi dari UMY, tamatan Indiana University, USA. Tentu melalui podcast asuhan intelektual Indonesia ini. Simak: https://youtu.be/_PGc2IIEQq8?si=F82jxdzy1EiLGMPb

Satu hal yang mengesankan dari jawaban dia tentang pertanyaan saya, dia katakan: bahwa di Iran transmisi dan perkaderan dalam melanjutkan gerakan revolusi Islam berjalan berkesinambungan. Tidak berhenti, apalagi disorientasi. Saya tanyakan hal ini, karena mengingat di Indonesia, setelah 2009 dengan ditandai merosotnya pengaruh dan perolehan legitimasi partai-partai berbasis Islam, menurut pengamatan saya, gerakan Islam sudah kehilangan artinya. Orientasinya lumer, tradisinya hilang, ditelan pola transaksional mengikuti pola partai-partai sekular. Rekruitmen keanggotaan dan elit, bertumpu pada relasi bos – anak buah.

Patron didasarkan pada perhitungan pragmatis dan bisnis. Ketokohan dan patronase bersumbu pada skala kemampuan finansial, bukan lagi ideologi, tingkat intelektualitas, apalagi kekuatan moral. Partai yang memiliki kuasa besar dalam menentukan masyarakat dan negara, tak ubah layaknya seperti perusahaan atau konsorsium perusahaan yang bertujuan mengontrol dan memproduksi laba dari sumber daya negara.

Di titik inilah terjadi dekadensi, demoralisasi, disorientasi, bahkan mungkin dislokasi yang muaranya kelesuan di lapisan bawah masyarakat, akibat hilangnya harapan. Dan ini menjangkiti barangkali semua partai dan akhirnya secara menyedihkan juga menular kepada ormas-ormas yang seharusnya dapat bertahan menjadi benteng bagi masyarakat untuk merawat moral.

Dr. Syifa bilang, di Iran perkaderan berjalan baik. Itu yang menyebabkan mereka bertahan dan kuat dan solid. Saya mencoba mencari jawaban, mengapa di Indonesia transmisi dan regenerasi gerakan Islam seolah mati, apakah akibat mentalitas bangsa ini yang kurang tahan banting, lembek, rapuh dan mudah terperdaya?

Jika ada hubungannya ke sana, apalagi didapatkan melalui penelitian yang valid, tentu konsekwensinya ialah perlu pendekatan dan sajian baru dalam upaya menghadirkan gerakan Islam. Hanya akan sia-sia menyodorkan obat atau pelampung pada suatu masyarakat yang sudah lelap menuju tenggelam tanpa mengenali titik krusial mereka.

Membanjiri mereka dengan logistik makanan dan kenyamanan di tengah situasi mereka yang akan tenggelam, tidak akan menolong mereka sedikit pun, kalau bukan hanya akan memperburuk nasib dan memastikan mereka dimangsa bencana.

Saat ini, yang paling mendesak ialah membangkitkan dan menemukan kembali spirit gerakan Islam sehingga menimbulkan kesadaran dan pergerakan di tubuh umat Islam Indonesia yang sudah lama terlena dan hanyut kepada orientasi materialistik. Spirit gerakan Islam memang tidak bisa lepas dari domain moral.

Karena memang Islam itu merupakan pegangan dan acuan moral. Itulah sebabnya, aktor-aktor gerakan Islam dituntut hidup sehari-hari dengan moral yang kukuh dan ketat. Misalnya, dia harus lebih dahulu berkorban diri daripada rakyat yang diseru dan dibimbingnya, hidup sederhana (zuhud), dan ketaatan yang paripurna kepada Tuhan-nya, tujuan esensial kehidupan dan gerakannya. Profil semacam itu, akan menyuburkan moral dalam gerakan Islam.

Sebaliknya jika hal semacam itu sirna, berganti pola hidup mewah, menyepelekan ketaatan pada Tuhan, dan menghindari pengorbanan harta, kesenangan dan jiwanya dalam memandu pergerakan Islam, maka tidak ada lagi arti gerakan tersebut. Ironisnya yang digambarkan terakhir itulah yang terjadi pada partai-partai Islam hingga ormas-ormasnya, dan sedihnya kecenderungan hal itu dimaklumi massa, tanpa penentangan yang berarti. Akbatnya terjadilah dekadensi, disorientasi dan demoralisasi secara massif.

Umat yang terbius dengan keadaan demoralisasi dan disorientasi semacam itu, tentu sangat lunak untuk dimangsa, diperdaya dan dieksploitasi.

Rasanya belum terlambat. Walaupun sebenarnya saat ini kita tengah berada dalam situasi persaingan antar pemangsa yang makin ganas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Terutama sekali sejak Donald Trump mengabaikan hukum internasional, tatanan berbasis aturan dan akal sehat (menculik Presiden Venezuela yang berdaulat dan menyerang Iran), dan kecenderungan untuk membentuk ulang tatanan geopolitik dan relasi antar negara yang menguntungkan Israel.

Di titik ini, tidak ada waktunya lagi bagi umat Islam di Indonesia untuk terus terlelap dan lalai. Tanggung jawab akan nasib diri sendiri dan lingkungan nasional yang menjadi ruang hidup umat Islam selama ini, harus dikendalikan jika tidak menuju mati konyol di kemudian hari. Dan gerakan Islam harus bangkit untuk tantangan itu.

Syahrul Efendi D, penulis buku Mengapa Gerakan Islam Gagal?

Facebook Comments Box