Pakan Mahal Dinilai Hambat Budidaya Ikan, Sulaeman L. Hamzah Dorong Produksi Mandiri di Banten
PANDEGLANG — Ketergantungan pembudidaya ikan terhadap pakan pabrikan dinilai menjadi penghambat utama berkembangnya sektor perikanan budidaya di Banten.
Anggota Komisi IV DPR RI, Sulaeman L. Hamzah, menyebut solusi atas persoalan tersebut sebenarnya tidak rumit dan tidak membutuhkan anggaran besar, asalkan ditangani secara serius dan terencana.
Hal itu disampaikannya saat meninjau Balai Budidaya Ikan Air Tawar di Curug Barang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (22/1/2026) lalu seperti dikutip dari media DPR.
Menurut Sulaeman, ketersediaan mesin pakan mandiri dapat menjadi kunci menekan biaya produksi yang selama ini membebani pembudidaya.
“Persoalan terbesar yang kami temukan di lapangan itu pakan. Biayanya tinggi dan sangat mempengaruhi keuntungan pembudidaya. Padahal, pengadaan mesin pakan tidak selalu mahal jika dikelola dengan baik,” ujarnya.
Ia menilai, dibandingkan masalah lain seperti perbaikan kolam atau distribusi hasil panen, urusan pakan justru menjadi tantangan paling berat. Ketika harga pakan melonjak, pembudidaya kerap tidak memiliki pilihan selain mengurangi skala produksi atau menanggung kerugian.
Dalam dialog dengan kelompok pembudidaya, Komisi IV DPR RI mencatat sejumlah keluhan utama yang akan dibawa ke pembahasan resmi bersama kementerian terkait. Langkah tersebut diharapkan mampu melahirkan kebijakan yang lebih konkret dan tepat sasaran.
“Aspirasi masyarakat tidak boleh berhenti di lapangan. Semua akan kami bawa ke rapat komisi agar ada tindak lanjut yang jelas,” tegas politisi Fraksi Partai NasDem tersebut.
Lebih jauh, Sulaeman menilai potensi perikanan budidaya di Pandeglang dan Banten secara umum sangat besar. Ia bahkan menyebut daerah ini berpeluang menjadi pemasok ikan tidak hanya untuk kebutuhan lokal dan nasional, tetapi juga pasar ekspor jika dikelola secara optimal.
“Banten ini strategis. Selain memenuhi kebutuhan daerah sendiri, wilayah ini juga menjadi penyangga Jakarta. Kalau dikelola serius, peluang ekspor sebenarnya terbuka lebar,” katanya.
Ia pun menyinggung perlunya perhatian pemerintah terhadap sektor perikanan budidaya, sebagaimana dukungan yang telah lama diberikan pada sektor pertanian. Menurutnya, kebutuhan dasar pembudidaya ikan—terutama pakan—layak mendapatkan skema dukungan serupa.
“Di pertanian ada subsidi pupuk. Di perikanan budidaya, kebutuhan utamanya pakan. Ini yang perlu kita dorong agar pembudidaya bisa lebih berdaya dan produksi meningkat,” pungkasnya.