Tausyiah Ramadhan Ke-4! Dr. Puadi: Sebaik-baik Manusia yang Memberi Manfaat bagi Sesama
JAKARTA – Memasuki hari keempat bulan suci Ramadhan 1447 H Anggota Bawaslu RI Dr. Puadi, SPd, MM menyampaikan tausyiah penuh makna tentang pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Dalam suasana Ramadhan yang sarat nilai kepedulian dan penguatan spiritual, Puadi mengajak umat Islam untuk tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi juga memperluas dampak sosial dari setiap amal kebaikan.
Menurut Puadi, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperbaiki hubungan vertikal kepada Allah SWT sekaligus mempererat hubungan horizontal dengan sesama manusia.
“Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah madrasah kehidupan. Di sinilah kita dilatih untuk peduli, berbagi, dan menghadirkan manfaat bagi orang lain,” ujar Puadi dalam tausyiahnya, Sabtu 4 Ramadhan (22/2/2026).
Hidup Itu Saling Memberi Manfaat
Puadi menegaskan bahwa esensi hidup seorang manusia terletak pada sejauh mana ia bisa memberi manfaat bagi lingkungannya. Ia mengingatkan bahwa harta, jabatan, dan kedudukan hanyalah titipan. Yang abadi adalah amal dan kebermanfaatan.
“Hidup itu saling memberi manfaat bagi orang lain. Jangan sampai kehadiran kita justru menyulitkan, apalagi merugikan. Ukur kualitas diri kita dari seberapa banyak orang merasakan kebaikan dari keberadaan kita,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Puadi mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW yang sangat populer:
“Khairunnas anfa’uhum linnas.”
Yang artinya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Ia menjelaskan bahwa hadits tersebut menjadi prinsip dasar dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Menjadi manusia terbaik bukan diukur dari popularitas atau kekayaan, tetapi dari kontribusi nyata kepada masyarakat.
Ramadhan Momentum Membangun Kepedulian
Puadi juga mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum membangun solidaritas sosial. Ia mencontohkan berbagai bentuk kebermanfaatan sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, seperti membantu tetangga, berbagi takjil, menyantuni anak yatim, hingga memberikan senyum dan kata-kata yang menenangkan.
“Kadang kita berpikir untuk bermanfaat harus menunggu kaya atau punya jabatan. Padahal, senyum yang tulus, nasihat yang baik, bahkan doa yang kita panjatkan untuk orang lain juga bagian dari manfaat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebermanfaatan tidak selalu berbentuk materi. Ilmu yang diajarkan, waktu yang diluangkan, serta perhatian yang diberikan juga termasuk amal jariyah yang nilainya besar di sisi Allah SWT.
Lingkungan yang Kuat Dimulai dari Individu yang Peduli
Lebih lanjut, Puadi menekankan bahwa lingkungan yang baik dan harmonis dimulai dari individu-individu yang peduli dan berempati. Jika setiap orang berkomitmen untuk memberi manfaat, maka konflik sosial, iri hati, dan perpecahan dapat diminimalisir.
“Bayangkan jika setiap orang berpikir, ‘Apa yang bisa saya berikan untuk orang lain hari ini?’ bukan ‘Apa yang bisa saya dapatkan?’ Maka insyaAllah, lingkungan kita akan penuh keberkahan,” ungkapnya.
Ia pun mengingatkan bahwa dalam Islam, kebermanfaatan merupakan bagian dari ibadah. Bahkan, membantu urusan orang lain termasuk amal yang sangat dicintai Allah SWT.
Mengisi Ramadhan dengan Aksi Nyata
Di penghujung tausyiahnya, Puadi mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik balik perubahan diri. Ia mendorong agar semangat berbagi dan memberi manfaat tidak berhenti setelah bulan suci berakhir.
“Jangan sampai setelah Ramadhan kita kembali menjadi pribadi yang individualis. Jadikan Ramadhan sebagai fondasi untuk terus menebar kebaikan sepanjang tahun,” pesannya.
Puadi berharap, melalui pemahaman hadits “Khairunnas anfa’uhum linnas”, setiap Muslim mampu memaknai hidup sebagai ladang amal dan kesempatan untuk menghadirkan manfaat seluas-luasnya.
“Semoga di Ramadhan keempat ini, kita tidak hanya menjadi orang yang rajin beribadah, tetapi juga menjadi pribadi yang dirindukan karena kebaikan dan kebermanfaatannya,” tutupnya.