Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar Ada sesuatu yang ganjil dalam kehidupan manusia modern. Di bulan Ramadhan, masjid-masjid dipenuhi jamaah, ayat-ayat suci dilantunkan dengan khusyuk, doa-doa menggema di malam hari, dan tangan-tangan terangkat memohon ampunan. Namun di sisi lain, kita masih menyaksikan ironi yang mengusik hati, kejujuran yang semakin langka, empati yang menipis, […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar Ada momen dalam sejarah ketika sebuah bangsa dipaksa memilih, tunduk atau tegak. Dan ketika kedaulatan disentuh oleh agresi, pilihan itu bukan lagi soal politik, ia menjadi soal kehormatan.Teheran mengguncang, bukan karena haus konflik. Ia mengguncang karena disentuh api. Ketika sebuah negara merdeka merasa wilayahnya dilanggar, martabatnya diinjak, […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar Kita sering salah memahami kekuatan. Kita mengira kuat itu tak pernah goyah, tak pernah lelah, tak pernah jatuh. Padahal kekuatan sejati justru lahir dari proses jatuh dan bangkit, dari rasa kurang yang melatih cukup, dari lapar yang mengajarkan kendali. Di situlah Ramadhan menemukan maknanya yang paling dalam, […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar Di saat jutaan umat Muslim sedang menahan lapar dan dahaga, menundukkan hati dalam doa, dan merenungkan nilai-nilai kemanusiaan di bulan Ramadhan, dunia tercengang oleh berita kekerasan berskala besar yang mengguncang Timur Tengah. Amerika Serikat bersama sekutunya, terutama Israel, telah melancarkan serangan udara masif ke Iran, operasi yang […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar Ramadhan selalu datang dengan wajah yang lembut. Ia mengetuk pintu hati manusia dengan ayat-ayat pengampunan, dengan malam-malam yang basah oleh doa, dengan siang yang hening oleh kesabaran. Ia seharusnya menjadi musim damai, di mana hati dilunakkan, lisan diperhalus, dan jiwa disucikan. Namun di tengah keheningan itu, ada […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar Ramadhan adalah musim paling jujur dalam kalender ruhani manusia. Ia datang bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menyingkap apa yang tersembunyi di balik dada. Di bulan ini, amal membesar nilainya, doa dilangitkan dengan harap, dan masjid kembali penuh oleh wajah-wajah yang merindukan ampunan. Namun di saat […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar Ada ironi yang sering tak kita sadari, masjid penuh saat Ramadhan, tetapi ruang-ruang kekuasaan tetap menyimpan kegelapan. Lisan basah oleh tilawah, namun tangan masih ringan menyalahgunakan amanah. Kita berpuasa dari makan dan minum, tetapi belum tentu berpuasa dari kezaliman. Ramadhan datang sebagai bulan penyucian, tetapi sebagian manusia […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar Ramadhan selalu hadir dengan wajah yang memikat. Jalan-jalan bersinar oleh lampu hias, masjid-masjid melimpah oleh jamaah, lantunan ayat dan doa memenuhi udara. Fenomena keagamaan tampak begitu hidup, begitu indah, begitu menggetarkan. Namun di balik segala yang terlihat itu, ada satu wilayah yang lebih sunyi dan lebih dalam, […]Read More
Olah: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar Tidak semua luka berdarah.Tidak semua badai terlihat dari luar.Ada kegelisahan yang tidak bersuara, tetapi bergetar pelan di dalam dada, mengganggu tidur, mengusik doa, bahkan menyelinap di sela-sela sujud. Sebagian orang tampak baik-baik saja. Ia hadir di majelis, tersenyum di hadapan kawan, bahkan aktif dalam ibadah. Namun ketika […]Read More
Oleh:Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar Ada orang yang tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam.Ada yang mudah mencintai dengan sangat dalam, lalu membenci dengan sangat tajam.Ada yang menangis bukan karena lemah, tetapi karena jiwanya kelelahan menahan badai yang tak pernah dilihat orang lain. Di antara realitas psikologis yang jarang dibicarakan secara terbuka […]Read More