DPR Sahkan RUU PSDK Jadi UU, Perkuat Perlindungan Saksi dan Korban
Ketua DPR RI Puan Maharani (tangkapan layar dari YouTube DPR)
LP JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Pelindungan Saksi dan Korban (PSDK) menjadi undang-undang dalam Rapat Paripurna ke-17 Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026.
Pengesahan dilakukan dalam rapat paripurna yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Sebelum pengesahan, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI sekaligus Ketua Panja RUU PSDK, Andreas Hugo Pareira, menyampaikan laporan hasil pembahasan tingkat I.
Secara keseluruhan, RUU PSDK terdiri dari 12 bab dan 78 pasal yang memuat sedikitnya 11 poin pokok substansi terkait perlindungan saksi dan korban dalam sistem peradilan.
Setelah laporan disampaikan, Ketua DPR RI, Puan Maharani, selaku pimpinan rapat meminta persetujuan seluruh anggota dewan untuk mengesahkan RUU tersebut menjadi undang-undang.
“RUU Perlindungan Saki dan Korban (PSDK) apakah dapat disetujui untuk disahkan menjadi UU?” tanya Puan.
“Setuju,” jawab anggota seluruh anggota dewan.
Dalam rapat paripurna yang sama, DPR RI juga menjadwalkan pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) sebagai bagian dari agenda legislasi prioritas.
Selain agenda legislasi, rapat turut diisi dengan penyampaian ikhtisar hasil pemeriksaan Semester II Tahun 2025 beserta laporan hasil pemeriksaan Semester II Tahun 2025 oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia.
Rangkaian rapat paripurna kemudian ditutup dengan pidato Ketua DPR RI dalam rangka Penutupan Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026.
[Red]