Manipulative Behavior: Ketika Kebaikan Dijadikan Topeng, dan Kebenaran Dipelintir oleh Kepentingan
Munawir
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar
Ada manusia yang tersenyum, tetapi senyumnya adalah strategi.Ada yang memuji, tetapi pujiannya adalah jaring.Ada yang berbicara tentang kebenaran, tetapi diam-diam ia sedang menenun kepentingan.
Manipulasi tidak selalu hadir dengan suara keras. Ia sering datang dengan bahasa halus, retorika indah, bahkan simbol kesalehan. Ia bukan sekadar kebohongan terang-terangan, tetapi seni membelokkan fakta, memainkan emosi, dan mengendalikan persepsi demi keuntungan diri.
Secara sederhana, manipulative behavior adalah perilaku memengaruhi orang lain dengan cara tersembunyi, tidak jujur, atau memutarbalikkan realitas demi kepentingan pribadi. Ia bekerja di ruang psikologis, membuat orang ragu pada dirinya sendiri, merasa bersalah tanpa sebab, atau tunduk tanpa sadar.
Fenomena ini nyata di tengah masyarakat kita. Di ruang politik, ada yang mengemas ambisi sebagai pengabdian. Di dunia kerja, ada yang memutar narasi agar tampak paling berjasa. Bahkan dalam relasi personal, ada yang menggunakan cinta sebagai alat kendali. Manipulasi adalah bentuk kezaliman yang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya menghancurkan martabat dan kepercayaan.
Al-Qur’an telah lama mengingatkan tentang bahaya permainan kata dan tipu daya yang halus:
﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُۥ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَيُشْهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِى قَلْبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلْخِصَامِ﴾
“Di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia mempesonakanmu, dan ia bersaksi kepada Allah atas isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras.”(QS. al-Baqarah: 204)
Ayat ini bukan sekadar kritik, ia adalah peta psikologis tentang manipulasi. Kata-kata bisa memesona, tetapi hati bisa menyimpan agenda.
Allah juga menegur keras praktik manipulatif dalam bentuk lain:
وَلَا تَلْبِسُوا ٱلْحَقَّ بِٱلْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan jangan kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.”(QS. al-Baqarah: 42).
Mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan, itulah inti manipulasi. Ia tidak sepenuhnya bohong, tetapi ia meracik kebenaran dengan kepentingan.
Rasulullah SAW. bersabda:
المكر والخديعة في النار
“Tipu daya dan pengkhianatan tempatnya di neraka.”(HR. al-Baihaqi).
Dalam riwayat lain beliau bersabda:
آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Manipulasi adalah cabang dari nifaq halus, ketidaksinkronan antara lisan dan hati.Lebih dalam lagi, Al-Qur’an mengingatkan tentang tipu daya yang terencana:
وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِندَ ٱللَّهِ مَكْرُهُمْ
“Sungguh mereka telah membuat tipu daya mereka, dan di sisi Allah (tercatat) tipu daya mereka.”(QS. Ibrahim: 46).
Tak ada manipulasi yang benar-benar tersembunyi. Di hadapan manusia mungkin ia berhasil, tetapi di hadapan Allah ia tercatat dengan detail yang sempurna.Umar bin Khattab RA.pernah berkata:
لَسْنَا بِالْخُدَّاعِ وَلَكِنَّا لَا نُخْدَعُ
“Kami bukanlah penipu, tetapi kami juga tidak akan tertipu.”
Keseimbangan ini penting, tidak menjadi manipulator, tetapi juga tidak naif. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akar manipulasi adalah penyakit hati, riya’, hubb al-jāh (cinta kedudukan), dan tamak. Hati yang haus pengakuan akan memanfaatkan apa saja, termasuk agama dan moralitas.
Padahal Allah menilai kejujuran batin, bukan sekadar kepiawaian retorika:
يَوْمَ تُبْلَى ٱلسَّرَائِرُ
“Pada hari ketika segala rahasia diuji.”(QS. ath-Thariq: 9).
Hari itu bukan yang diuji sekadar perbuatan lahir, tetapi niat tersembunyi. Manipulasi mungkin memberi kemenangan sesaat, tetapi ia merusak kepercayaan, dan kepercayaan adalah fondasi peradaban. Tanpa kejujuran, relasi menjadi rapuh. Tanpa integritas, kepemimpinan menjadi topeng. Tanpa ketulusan, ibadah kehilangan ruh.
Lalu bagaimana jalan keluarnya?
Al-Qur’an menawarkan prinsip yang jernih:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ وَكُونُوا مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ
“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.”
(QS. at-Taubah: 119)
Kejujuran adalah revolusi sunyi. Ia mungkin tidak spektakuler, tetapi ia menenangkan. Ia mungkin tidak selalu menguntungkan secara cepat, tetapi ia menguatkan secara mendalam.
Manipulasi lahir dari ketakutan kehilangan kuasa. Kejujuran lahir dari keyakinan bahwa rezeki dan kemuliaan datang dari Allah.
مَّا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.”(QS. an-Nahl: 96).
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan, seberapa lihai kita memengaruhi orang lain?.
Tetapi, seberapa jernih hati kita saat tak seorang pun melihat?. Karena dunia mungkin terpesona oleh retorika, namun Allah menilai kejernihan niat.Dan ketika hati bersih dari manipulasi, kita tidak lagi membutuhkan topeng, sebab kebenaran sudah cukup untuk berdiri sendiri.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab