Wati, si Kucing yang Rajin Ngaji di Kantor Golkar DKI: Sampaikan Pesan Mendalam…

 Wati, si Kucing yang Rajin Ngaji di Kantor Golkar DKI: Sampaikan Pesan Mendalam…

JAKARTA – Di sela-sela kesibukan politik dan agenda organisasi di Kantor DPD Partai Golkar DKI Jakarta, ada satu “jamaah” setia yang selalu hadir dalam setiap kegiatan terutama pengajian tahsin Al-Qur’an.

Namanya Wati. Seekor kucing yang tingkahnya kerap mengundang senyum, tapi kehadirannya justru menghadirkan hikmah mendalam.

Jauh sebelum Ramadhan tiba, Wati sudah lebih dulu rajin “mengaji”. Setiap ada kelas tahsin rutin pengurus Golkar DKI Jakarta, ia datang layaknya murid teladan nan cerdas. Kadang tepat waktu, kadang sedikit terlambat. Namun hampir tak pernah absen. Kelakuannya membuat pengurus Golkar DKI iri dengan si Wati.

“Iya, dia selalu ada di kelas setiap ada kelas Tahsin Al-Qur’an. Suka ikut duduk di kursi menyimak materi, tapi lebih sering duduk atau rebahan di atas meja sampai kelas selesai,” ujar salah satu pengurus sambil tertawa membayangkan kelakuan si Wati.

Suasana kelas yang biasanya khidmat dan serius, mendadak mencair saat Wati kadang melompat pelan ke atas meja, menggulung tubuhnya, lalu memejamkan mata. Namun siapa pun yang melihatnya tahu, ia tidak benar-benar tidur. Telinganya tetap bergerak, seakan menyimak setiap lantunan ayat suci.

“Wati rajin ngaji,” kata Asraf Ali mantan DPRD DKI Jakarta sekaligus Wakil Ketua Bidang Kerohanian Golkar DKI Jakarta singkat, namun penuh makna.

Yang lain bahkan mengaku tersentuh. “Saya kalah rajin sama si Wati,” celetuk seorang peserta pengajian. Ada juga yang jujur merasa malu. “Jujurly saya jadi malu sama si Wati,” timpal yang lain dalam percakapan internal pengurus.

Bagi mereka, para pengurus Golkar DKI kehadiran Wati bukan sekadar kebetulan. Ada pesan yang seolah ingin disampaikan lewat tingkah polosnya. Seperti bisikan tanpa suara: “Kucing saja ikut mengaji, masa manusia tidak?”

Bahkan saat rapat panitia Ramadhan dan buka puasa bersama digelar, Wati ikut hadir. Ia menjadi bagian dari kebersamaan. Candaan pun bermunculan. “Wati mau makan kue nastar atau es krim?” tanya salah satu pengurus berseloroh. Yang lain menimpali, membayangkan Wati suatu hari bisa fasih mengucap “Alhamdulillah” atau mengajak sesama kucing mendengarkan tilawah.

Namun di balik semua kelucuan itu, ada hikmah yang dirasakan bersama. “Ada hikmah yang Allah perlihatkan,” ujar salah satu pengurus.

Di tengah dinamika politik ibu kota, Wati hadir sebagai pengingat sederhana tentang konsistensi dan ketulusan. Ia tidak paham tafsir, tidak mengerti tajwid, apalagi urusan partai. Tapi ia datang. Duduk. Menyimak. Setia.

Dan mungkin, justru dari seekor kucing bernama Wati itu, manusia diingatkan kembali tentang arti istiqamah—tentang hadir, tentang belajar, dan tentang tidak melewatkan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Karena terkadang, pesan paling dalam datang bukan dari mimbar, melainkan dari langkah pelan seekor kucing yang rajin mengaji.

Saat ditanya, siapa yang tahu cerita atau sejarah Wati menjadi ‘Keluarga Besar’ Golkar DKI. Dari pengurus, tak ada yang tahu.

“Ketua Wantim Pak Jojo yang bisa jawab,” jawab salah satu pemgurus bahwa Jojo yang paham soal itu. Hingga berita ini diturunkan, Jojo belum menjawab pesan yang telah disampaikan.

Facebook Comments Box