Hikmah Idul Fitri, Hermanto Sampaikan Cara Rasulullah Bangun Kota

Hikmah Idul Fitri, Hermanto Sampaikan Cara Rasulullah Bangun Kota

SHARE

 

Pada hari yang fitri ini, ada baiknya kita renungkan teladan yang pernah dilalui Nabi beserta para sahabatnya dalam membangun masyarakat Kota Madinah. Suatu masyarakat madani (al-mujtama’ al-madaniy) yaitu masyarakat plural yang beradab yang terdiri dari berbagai suku, golongan, dan agama.

Masyarakat yang dikelola dengan beberapa prinsip dasar, diantaranya: ikatan iman, ukhuwah(persaudaraan), tasamuh (toleransi), musawah (persamaan), ta’awun (gotong royong) dan semangat kompetitif.

Hal itu disampaikan Anggota MPR/DPR RI dari dapil Sumatera Barat (Sumbar) I Hermanto  dalam paparannya saat menjadi khatib Iedul Fitri di Mushalla al-Muhajirin, Lori, Lubuk Minturun, Koto Tangah, Kota Padang, Rabu (5/6/2019).

Menurut Hermanto, masyarakat yang dibangun oleh Nabi adalah sebuah komunitas unggulan. Komunitas yang sarat dengan teladan kebajikan. Komunitas yang masih relevan untuk kondisi saat ini, di sini.

“Karena itu sudah pada tempatnya bila kita mempertimbangkan langkah-langkah penting yang pernah dilakukan Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya dalam membangun Kota Madinah untuk kita terapkan dalam membangun Padang Kota Tercinta,” kata Hermanto.

Hermanto menjelaskan, Madinah yang biasa disebut Kota Nabi, proses pembangunannya diawali dari peristiwa hijrah umat Islam yaitu sebuah gerakan perubahan tatkala Rasulullah beserta umat yang setia bersamanya pindah dari Mekah ke Madinah. Bangunan kota ditata untuk mewujudkan kehidupan yang penuh rahmat dan kebajikan. Disediakannya fasilitas sosial agamis untuk memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan warganya. Bukan saja kebutuhan fisik material, tetapi juga mental spiritual.

Langkah pertama, yang dilakukan Nabi adalah membangun masjid. Fungsinya, selain sebagai tempat shalat berjamaah juga sebagai pusat pembinaan dan tempat silaturrahim umat. Inilah pilar utama yang disiapkan Nabi dalam membangun kota yang hingga saat ini tetap dikenal sebagai kota agamis namun tetap memelihara peradaban umat yang dihadapinya. Kearifan lokal dikelola untuk memperkuat syara guna membangun tatanan yang diinginkan, Gemah Ripah Repeh Rapih.

“Beliau menanamkan fondasi utama bermasyarakat yaitu iman dan taqwa. Alqur’an dengan tegas menyebut hal itu. “Seandainya penduduk suatu negeri (masyarakat suatu wilayah, warga suatu kota) beriman dan bertaqwa, maka pasti Allah akan menurunkan kepada mereka keberkahan dari langit dan menumbuhkan berkah dari bumi…”.

“Beliau memantapkan umat untuk memiliki semangat dan jiwa tauhid. Bahwa yang patut disembah hanya Allah. Bahwa Allah adalah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Menghitung, Maha Mengawasi. Bahwa kekayaan, kedudukan, kemuliaan sepenuhnya milik Allah SWT. Yang atas qudrah dan iradah-Nya ada yang diberikan kepada manusia yang berfungsi sebagai anugerah kasih sayang-Nya, sekaligus sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan serta sebagai ujian keimanan dan kehidupan.”

Dalam pemaparannya, politisi PKS ini juga menegaskan saat Nabi melakukan pemantapan sikap tauhid yang utuh dan sempurna. Tauhid yang sempurna melahirkan pribadi muslim yang ikhlas, tekun, sabar dan tawadlu .

“Beliau mendidik masyarakat, tidak hanya rajin beribadah tetapi juga memiliki kepedulian yang tinggi kepada lingkungannya, baik sosial maupun alam,” terang Hermanto.

Sekalipun cinta kepada hartanya tetap peduli untuk membantu sesamanya yang membutuhkan. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Albaqarah: 177.

وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ(البقرة:177)

“Dan ia memberikan harta, meskipun ia sangat menyintai hartanya, kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), orang-orang yang meminta-minta dan untuk memerdekakan hamba sahaya” (al-Baqarah: 177).

Yang terakhir disampaikan, prinsip penting lainnya adalah ukhuwah (persaudaraan). Ukhuwah adalah salah satu potret penting dari masyarakat Madinah. Semua orang mukmin adalah bersaudara. Diantara orang mu’min harus dibudayakan ishlah, tabayyun, tidak boleh saling memperolok (taskhiriah), melecehkan, menghina, memanggil orang lain dengan panggilan yang menyakitkan, buruk sangka, mencari-cari kesalahan, membuka aib (ghibah).

“Orang muslim itu ialah apabila orang lain selamat dari gangguan lidah dan gangguan anggota badannya. Al muslimu man salimal muslimun min lisanihi wayadihi (Al Hadits).”

Sebagai penutup, ia menegaskan, tidak ada diskriminasi atas nama apapun. Sejarah memperlihatkan dengan jelas pluralitas Madinah. Nabi tetap sanggup merawatnya dalam spirit ajaran yang santun. Allah SWT menciptakan pria wanita, suku bangsa untuk saling mengenal, bukan karena kemulyaan dan keunggulan golongannya, tapi lebih didasarkan pada pertimbangan ketaqwaannya. (Q.S. Al Hujurat: 13). (Joko)

Facebook Comments