Jenuh di Panti, Pengamen Pilih Penjara

 Jenuh di Panti, Pengamen Pilih Penjara

Ilustrasi

Jakarta, Lintasparlemen.com–Pengemis dan gelandangan yang terjaring razia Dinas Sosial DKI Jakarta akan menuju Panti Sosial Bina Insan (PSBI) 2 Cipayung, Jakarta Timur. Namun, tidak semua merasa nyaman berada di panti sosial. Bagi yang pernah merasakan berada di balik jeruji besi, panti sosial kalah nyaman.

Panti sosial bertujuan menampung para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) tersebut untuk dibina. Seperti yang dialami Rizki (18).

Remaja ini menghabiskan dua tahun terakhirnya mengamen di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Ia terjaring razia petugas Dinas Sosial DKI Jakarta pekan lalu. Berbagai kegiatan dan bimbingan yang ada di panti diikutinya setiap hari.

Terbiasa hidup di jalanan rupanya membuat Rizki jenuh beraktivitas di panti. Olahraga, kegiatan bersih panti, bimbingan psikologi, spiritual keagamaan, hingga bimbingan keterampilan salon dan bermusik ia jalani setiap hari.

“Kegiatan ya kayak gitu aja terus. Bangun, bersih-bersih, ikut bimbingan. Nanti sore udah balik ke kamar lagi,” ujar Rizki ditemui di PSBI 2 Cipayung, Selasa (29/3). Hanya ijazah sekolah menengah ia pegang sebagai modal.

Rizki pun mengenang saat ia dikurung di LP Cipinang dan membandingkannya dengan kondisi saat ini di dalam panti. Setahun di Lapas Narkotika Cipinang pada tahun 2014 dilewati karena kedapatan mengonsumsi ganja saat berkumpul dengan teman-temannya.

“Kalau di lapas kita masih bisa jalan-jalan. Paling main ke sel teman, tinggal bayar ceban (Rp10 ribu) ke sipir biar boleh keluar,” katanya.

Rizki mengaku bisa bercengkerama atau sekadar berkumpul bersama penghuni sel lain untuk menghilangkan kejenuhan. Sementara di panti, kegiatan Rizki terbatas untuk istirahat sejak sore hingga malam hari. Belum lagi dalam barak tempatnya tidur, Rizki harus berbagi dengan 10 hingga 15 orang rekan lainnya.

Meski diberi makan pihak panti secara gratis, Rizki tetap memilih kembali di jalanan. Dalam sehari mengamen, ia bisa mengumpulkan uang Rp30 ribu sampai Rp50 tanpa harus disetorkan lagi ke orang.

Rizki mesti bersabar. Setelah menjalani pembinaan selama kurang lebih 14 hari, ia masih harus menunggu waktu sepekan lagi untuk bisa keluar dari panti.

“Kita di panti kan dikasih waktu 21 hari, jadi masih seminggu lagi biar bisa keluar,” tuturnya.

Usai keluar dari panti, Rizki berencana kembali ke kampung halamannya di Cirebon, Jawa Barat. Belum ada tujuan selepas ia keluar dari panti, hanya saja bertemu orang tua menjadi keinginan terdekatnya saat ini.

“Pulang kampung ketemu orang tua. Setelah itu baru mikir lagi mau ngapain,” ucapnya.

(Cnn)

Digiqole ad

Berita Terkait