I Nyoman Parta: Mangrove Bukan Sekadar Pohon, tapi Benteng Kehidupan Pesisir Bali
I Nyoman Parta sedang menanam Mangrove (foto: Facebook)
DENPASAR – Anggota DPR RI Dapil Bali dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Parta, kembali menegaskan pentingnya pelestarian mangrove sebagai fondasi utama ekosistem pesisir. Melalui akun Facebook pribadinya, Selasa (24/2/2026), I Nyoman membagikan sejumlah foto kegiatan penanaman mangrove yang dilakukan bersama komunitas lingkungan sejak tahun 2022 hingga 2025.
“Sekali lagi tentang mangrove. Foto-foto ini adalah beberapa kali kegiatan kami para komunitas lingkungan saat menanam mangrove dari tahun 2022 sampai tahun 2025,” tulis I Nyoman Parta dalam unggahannya.
Ia menegaskan bahwa mangrove bukanlah pohon darat yang mudah tumbuh tanpa tantangan. Menurutnya, mangrove harus bertahan dalam kondisi ekstrem—air payau, gelombang laut, lumpur, hingga perubahan pasang surut.
“Mangrove bukan seperti pohon darat yang mudah tumbuh. Sampai bisa besar, mangrove menghadapi banyak kendala sekaligus, namun manfaatnya juga sangat besar,” tegasnya.
Benteng Alami Pesisir
Dalam unggahan tersebut, I Nyoman Parta menguraikan secara rinci fungsi mangrove dari aspek fisik. Ia menyebut mangrove sebagai benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari berbagai ancaman lingkungan.
“Akar mangrove yang rapat mampu memecah energi gelombang laut sehingga tidak mengikis daratan. Inilah yang mencegah abrasi,” tulisnya.
Tak hanya itu, hutan mangrove yang lebat juga berperan sebagai peredam tsunami. Menurutnya, vegetasi mangrove dapat meminimalkan dampak gelombang besar sebelum mencapai daratan.
Ia juga menyoroti fungsi mangrove sebagai penyaring alami. “Akar mangrove menyaring polutan dan limbah dari daratan agar tidak langsung masuk ke laut, sehingga kualitas air tetap terjaga,” jelasnya.
Selain itu, mangrove berfungsi mencegah intrusi air laut ke daratan. “Mangrove membantu menahan rembesan air laut sehingga air tanah dan sumur warga tetap tawar,” tambahnya.
Penopang Keanekaragaman Hayati
Dari sisi biologi, politisi PDI Perjuangan itu menyebut mangrove sebagai pusat kehidupan berbagai biota laut dan satwa liar.
“Tempat pemijahan ikan, udang, dan kepiting sebelum bermigrasi ke laut lepas ada di mangrove. Kalau mangrove rusak, rantai kehidupan laut ikut terganggu,” ungkapnya.
Ia juga menyebut mangrove sebagai habitat berbagai jenis burung, kera, ular, hingga serangga. Bahkan, daun mangrove yang gugur menjadi detritus—makanan bagi plankton dan biota kecil lainnya—yang kemudian menjadi bagian penting dalam rantai makanan laut.
Paru-paru Dunia dan Penyerap Karbon Biru
Dalam konteks perubahan iklim, I Nyoman Parta menyoroti kemampuan mangrove sebagai penyerap karbon biru (blue carbon). Ia menyebut mangrove mampu menyerap karbon dioksida 4–5 kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan.
“Mangrove adalah paru-paru dunia di wilayah pesisir. Kemampuannya menyerap CO2 sangat besar, sehingga efektif melawan perubahan iklim,” tulisnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya rehabilitasi mangrove bukan hanya untuk kepentingan lokal, tetapi juga bagian dari kontribusi global menghadapi krisis iklim.
Potensi Ekonomi dan Kesejahteraan Nelayan
Selain fungsi ekologis, I Nyoman Parta juga menekankan nilai ekonomi mangrove. Kawasan mangrove, menurutnya, kini banyak dikembangkan sebagai destinasi ekowisata dan edukasi lingkungan.
“Potensi ekowisata mangrove sangat besar jika dikelola dengan baik,” ujarnya.
Ia juga menyinggung hasil hutan non-kayu dari mangrove. Buah mangrove tertentu dapat diolah menjadi sirup atau makanan, sementara bunganya menjadi sumber nektar bagi lebah madu.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa ekosistem mangrove yang sehat menjamin keberlanjutan stok ikan bagi nelayan tradisional. “Kesejahteraan nelayan sangat bergantung pada kesehatan mangrove. Kalau mangrove terjaga, stok ikan juga terjaga,” tulisnya.
Konsistensi Gerakan Lingkungan
Unggahan tersebut juga menunjukkan konsistensi keterlibatan I Nyoman Parta dalam berbagai kegiatan penanaman mangrove di Bali bersama komunitas lingkungan sejak 2022. Dokumentasi foto yang dibagikan memperlihatkan proses penanaman di kawasan pesisir dengan melibatkan relawan dan masyarakat setempat.
Ia berharap kesadaran menjaga mangrove tidak berhenti pada seremoni penanaman semata, tetapi berlanjut pada perawatan dan pengawasan bersama.
“Menanam itu penting, tapi menjaga dan merawatnya jauh lebih penting,” tegasnya.
I Nyoman menulis mengenai fungsi mangrove dalam unggahan tersebut diketahui dikutip dari Christian Mandala Putra.
Dengan penegasan berulang mengenai urgensi mangrove, I Nyoman Parta mengajak seluruh elemen masyarakat Bali untuk melihat mangrove bukan sekadar tanaman pesisir, melainkan investasi ekologis, sosial, dan ekonomi jangka panjang bagi generasi mendatang.