Ekonomi Daerah Tidak Bisa Selamanya Bergantung Membangun Kekuatan dari Produksi Lokal
Oleh: Syafruddin Mualla, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulawesi Selatan
Salah satu kelemahan mendasar pembangunan daerah di Indonesia adalah terlalu besarnya ketergantungan pada anggaran pemerintah. Setiap tahun daerah menunggu transfer dana dari pusat, menyusun rencana berdasarkan besarnya APBD, lalu berharap ekonomi akan bergerak dengan sendirinya. Cara berpikir seperti ini membuat banyak daerah terlihat tumbuh, tetapi sebenarnya masih rapuh.
Ekonomi yang bertumpu pada belanja pemerintah bukanlah ekonomi yang kuat. Ketika proyek berjalan, aktivitas meningkat dan perputaran uang terasa hidup. Namun ketika anggaran berkurang, ekonomi sering kali langsung melambat. Pola seperti ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi daerah masih lemah dan belum berdiri di atas kekuatan produksi sendiri.
Kemandirian ekonomi tidak lahir dari besarnya anggaran, tetapi dari kemampuan daerah menghasilkan nilai tambah secara berkelanjutan. Daerah yang kuat adalah daerah yang mampu memproduksi, mengolah, dan memasarkan hasil usahanya sendiri. Tanpa kemampuan produksi yang memadai, daerah hanya akan menjadi tempat peredaran barang dari luar.
Persoalan inilah yang masih banyak terjadi hingga hari ini. Pasar-pasar di daerah terlihat ramai, aktivitas perdagangan meningkat, dan perputaran uang berjalan cukup besar. Namun sebagian besar barang yang diperjualbelikan berasal dari luar daerah. Uang yang dibelanjakan masyarakat pada akhirnya kembali keluar karena produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan sendiri.
Jika kondisi ini terus berlangsung, maka pertumbuhan ekonomi daerah hanya akan bersifat semu. Daerah terlihat bergerak, tetapi belum benar-benar berkembang. Kita menjadi konsumen yang aktif, tetapi belum menjadi produsen yang kuat.
Padahal hampir semua daerah memiliki potensi yang cukup untuk membangun kekuatan ekonomi sendiri. Sektor pertanian, perikanan, pariwisata, industri, dan jasa menyediakan peluang besar untuk menciptakan nilai tambah. Yang sering menjadi masalah bukanlah kekurangan potensi, melainkan belum jelasnya arah pembangunan ekonomi yang terfokus pada penguatan produksi.
Pembangunan ekonomi daerah seharusnya dimulai dari penguatan sektor produksi berbasis potensi lokal. Hasil pertanian dan perikanan tidak seharusnya dijual dalam bentuk bahan mentah. Tanpa pengolahan, nilai ekonomi yang dinikmati daerah akan selalu terbatas. Industri pengolahan skala kecil dan menengah perlu menjadi tulang punggung ekonomi lokal karena sektor inilah yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus menjaga perputaran uang tetap berada di daerah.
Dalam konteks ini, pengusaha lokal memiliki peran yang sangat menentukan. Pengusaha daerah bukan sekadar pelaku ekonomi, tetapi juga bagian dari struktur pembangunan. Jika pelaku usaha lokal berkembang, maka ekonomi daerah akan memiliki daya tahan yang lebih kuat. Sebaliknya, jika pelaku usaha lokal tidak tumbuh, maka daerah akan terus bergantung pada kekuatan ekonomi dari luar.
Pemerintah daerah perlu memandang pengembangan ekonomi lokal sebagai agenda strategis jangka panjang, bukan sekadar program tahunan. Dukungan terhadap usaha produktif harus lebih diutamakan dibandingkan kegiatan yang hanya bersifat seremonial. Kebijakan ekonomi perlu diarahkan untuk memperkuat produksi lokal sehingga daerah memiliki sumber pertumbuhan yang berkelanjutan.
Kemandirian ekonomi bukan berarti menutup diri dari kerja sama dengan daerah lain. Justru daerah yang kuat adalah daerah yang mampu bekerja sama secara seimbang karena memiliki kemampuan produksi sendiri. Tanpa kekuatan produksi, kerja sama ekonomi hanya akan menjadikan daerah sebagai pasar bagi produk dari luar.
Sudah waktunya pembangunan daerah bergerak ke arah yang lebih mendasar. Kita tidak bisa selamanya bergantung pada anggaran pemerintah sebagai penggerak utama ekonomi. Anggaran hanyalah alat pembangunan, bukan tujuan akhir.
Masa depan ekonomi daerah akan lebih ditentukan oleh seberapa kuat kita membangun sistem produksi lokal daripada seberapa besar anggaran yang kita terima.
Daerah yang benar-benar maju bukanlah daerah yang paling besar belanjanya, tetapi daerah yang paling kuat basis produksinya.