Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Cinta seharusnya menghadirkan ketenangan. Tetapi ada cinta yang justru melahirkan kecemasan. Ada hubungan yang awalnya hangat, perlahan berubah menjadi ruang interogasi. Pesan singkat menjadi sumber curiga. Keterlambatan kecil menjadi bukti yang dibesar-besarkan. Senyum kepada orang lain […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Ada manusia yang terlihat begitu percaya diri, begitu yakin, begitu ingin tampil paling bercahaya. Ia berbicara dengan nada tegas, berjalan dengan kepala tegak, dan seolah tak pernah ragu pada dirinya sendiri. Namun di balik semua itu, […]Read More
Oleh: Munawir Kamaludin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Ada masa ketika seseorang kita anggap begitu tinggi, nyaris tanpa cela. Kita memujanya dalam diam, membelanya dalam perdebatan, dan menempatkannya di ruang paling bersih dalam pikiran kita. Namun waktu berjalan, tirai tersingkap, dan perlahan kita menyadari […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Ada sesuatu yang aneh dalam peradaban manusia hari ini. Tokoh semakin banyak, tetapi teladan semakin sedikit. Nama-nama besar bertebaran di layar dan panggung dunia, namun hati manusia tetap mencari sosok yang benar-benar layak diikuti. Kita hidup […]Read More
Oleh: Munawir Kalaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Di banyak ruang kehidupan hari ini, baik politik, bisnis, akademik, bahkan relasi sosial, kita menyaksikan satu keyakinan yang bekerja diam-diam namun menentukan arah perilaku, yakni keyakinan bahwa hidup adalah arena rebutan sempit, bahwa kemenangan hanya mungkin […]Read More
Oleh: Munawir Kalaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Di banyak ruang kehidupan hari ini, baik politik, bisnis, akademik, bahkan relasi sosial, kita menyaksikan satu keyakinan yang bekerja diam-diam namun menentukan arah perilaku, yakni keyakinan bahwa hidup adalah arena rebutan sempit, bahwa kemenangan hanya mungkin […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Ada manusia yang terlihat kuat, tetapi batinnya rapuh. Ada yang tampak berhasil, tetapi diam-diam kehilangan makna hidup. Dunia modern sering mengajarkan bagaimana menjadi cepat, kaya, dan populer, tetapi tidak selalu mengajarkan bagaimana menjadi tenang. Ketika orientasi hidup hanya berputar pada pencapaian material, jiwa perlahan kehilangan arah. Di titik inilah manusia memerlukan reposisi […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Ada manusia yang masih tersenyum, tetapi tidak lagi merasakan bahagia. Ada yang masih menangis, tetapi air matanya terasa kosong. Ada pula yang menjalani hari-hari seperti biasa, namun di dalam dirinya sunyi yang panjang tidak pernah benar-benar selesai. Inilah salah satu tragedi modern yang jarang disadari, bukan luka yang terasa sakit, tetapi hati […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Ada manusia yang tampak berdiri di puncak keyakinan diri, namun sesungguhnya sedang terperosok dalam jurang keakuan. Ia berbicara dengan nada pasti, berjalan dengan dada membusung, dan memandang dunia seolah dirinya pusat semesta. Yang terlihat adalah kepercayaan diri, namun yang tersembunyi adalah overconfidence yang berkelindan dengan superiority complex, yakni rasa yakin berlebihan yang […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Ada hubungan yang membuat seseorang tersenyum di depan orang lain, tetapi menangis diam-diam ketika sendirian. Ada kebersamaan yang menghadirkan rasa bersalah tanpa kesalahan, luka tanpa sebab yang jelas, dan takut kehilangan meski sedang disakiti. Jiwa terasa […]Read More