Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Ada subuan cerita yang lumayan menggelitik kesadararan spiritualitas kita tentang sebuah perusahaan besar di negeri jiran Malaysia. Negeri yang dikenal mayoritas Muslim, agamis, dan religius. Dinegeri tersebut digelar sebuah acara syukuran. Panggung ditata megah, undangan berdatangan […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Apakah benar seseorang menjadi mulia dengan merendahkan orang lain? Apakah keunggulan harus dibuktikan dengan merusak nama, mencabik martabat, dan menabur luka? Dan mengapa sebagian manusia merasa lebih bercahaya justru ketika berhasil memadamkan cahaya orang lain? Pertanyaan-pertanyaan […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Apakah pergantian tahun benar-benar menandai perubahan, atau hanya pergantian angka yang kita rayakan dengan euforia kosong? Apakah kembang api yang meledak di langit mampu menerangi hati yang lama gelap oleh kerakusan, kebencian, dan kelelahan moral? Ataukah […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Tahun berganti, tetapi kelelahan batin seolah enggan pergi. Stres hari ini tidak lagi berdiri sebagai pengalaman personal, melainkan menjelma menjadi denyut bersama, merayap di rumah-rumah, kantor, ruang kelas, dan ruang ibadah. Banyak manusia hidup dalam tekanan […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Apakah bumi yang kita pijak sedang menangis, ataukah ia sedang menegur manusia yang lupa diri? Apakah bencana yang datang bertubi-tubi hanyalah siklus alam biasa, atau isyarat bahwa ada yang keliru dalam cara kita hidup? Dan di […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Peristiwa yang belakangan viral seorang dosen berstatus ASN yang melakukan tindakan meludah kepada seorang kasir wanita, telah mengguncang ruang kesadaran publik dan merendahkan martabat kemanusiaan. Bukan semata karena aktor pelakunya, melainkan karena simbol moral yang ia […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Peradaban manusia berdiri dan bertahan bukan semata oleh kekuatan politik, kemajuan teknologi, atau keunggulan ekonomi, melainkan oleh kemampuan manusia menjaga martabat sesamanya. Ketika kemajuan tidak lagi diiringi empati, dan identitas berubah menjadi alat penyingkiran, peradaban mulai […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Apakah iman harus ditunjukkan dengan suara yang paling keras? Apakah keyakinan menjadi lebih mulia ketika keyakinan orang lain direndahkan? Mengapa atas nama agama, lisan begitu mudah melukai, sementara hati lupa bercermin? Dan benarkah iman yang kokoh […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Apakah perbedaan memang ditakdirkan untuk dipertentangkan, atau justru untuk disatukan? Mengapa sesuatu yang lahir dari kehendak Tuhan sering kali berujung pada pertengkaran manusia? Dan di tengah dunia yang kian gaduh oleh klaim kebenaran, masihkah kita mampu […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Benarkah harmoni bisa diperintah? Apakah kerukunan lahir dari kesadaran, atau cukup dengan panggung bersama dan simbol kebersamaan? Di titik mana toleransi berubah menjadi tekanan halus, dan moderasi bergeser dari kebajikan menjadi agenda? Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan […]Read More