Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Apakah suara kebenaran masih memiliki ruang di tengah hiruk-pikuk kepentingan kekuasaan? Apakah fatwa hari ini masih menjadi penunjuk arah, atau sekadar gema yang mengendap di ruang-ruang mimbar tanpa daya ikat kebijakan? Dan ketika regulasi negara […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Pernahkah kita menundukkan kepala sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, mengapa sebagian manusia merasa terasing dari tubuhnya sendiri? Mengapa ada yang mencari identitas baru seolah identitas yang diberikan Tuhan tidak cukup? Ataukah sebenarnya di balik semua […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Adakah yang lebih menyakitkan daripada hidup di negeri yang tampak merdeka, namun warganya tak lagi merasa bebas untuk menghela napas? Apakah arti demokrasi bila suara rakyat hanya menjadi gema di ruang hampa, sementara keputusan besar disusun […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Pertanyaan paling sunyi dalam sejarah bangsa ini bukanlah “siapa yang memimpin?”, melainkan “siapa yang sesungguhnya memiliki republik ini?”. Pada suatu masa, kita dipaksa bertanya dalam lirih yang gemetar. Apakah demokrasi benar-benar masih hidup, ataukah ia hanya […]Read More
Oleh:Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Ada satu pertanyaan yang pelan-pelan menghantui nurani bangsa ini, siapa yang sebenarnya berdetak dalam dada republik kita? Apakah ia masih denyut tulus rakyat, atau hanya gema langkah segelintir elite yang mengatur arah bangsa dari ruang-ruang yang tidak […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Ada sebuah kegelisahan yang perlahan tumbuh di dada bangsa ini, sebuah desir halus yang kadang hanya terdengar ketika malam sedang sangat sunyi. Di balik hiruk-pikuk politik, kita sesungguhnya sedang mencari sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengenbangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Ada pertanyaan yang seharusnya menggugah kita sebelum menegur siapa pun; apakah kita sungguh mendengar sebelum berbicara, atau kita hanya menunggu giliran untuk menumpahkan isi kepala tanpa pernah mengizinkan suara lain hidup?. Mengapa masyarakat hari ini begitu […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengenbangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Ada saat di mana langit tampak diam, tetapi bumi bergetar. Ada waktu ketika manusia merasa telah menguasai peradaban, namun sekali getaran kecil saja menjatuhkan gedung-gedung tinggi dan menyapu angan-angan yang melayang. Aceh dan Sumatra, dua wilayah […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengenbangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Dalam denyut kehidupan modern yang bergerak cepat, di mana manusia sering mengejar waktu yang seolah berlari tanpa menoleh, bahkan persoalan kecil seperti kencing berdiri bagi laki-laki menjadi diskursus yang menarik. Bahakan sebahagian ulama mengatakan bawa persoalan […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengenbangan Sosial dan Ekonomi Nusantara) Dalam arus panjang sejarah manusia, guru adalah mata air yang tak pernah kering meski zaman berkali-kali berubah wajah. Mereka bukan gigi-gigi mesin yang bekerja tanpa rasa, tetapi cahaya yang memantul dari langit, merambat pelan ke hati-hati […]Read More