Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Sejak awal reformasi, bangsa ini menaruh harapan besar pada demokrasi. Ia hadir bagaikan mata air yang diidamkan, setelah perjalanan panjang bangsa ini terjerat otoritarianisme. Rakyat berbondong-bondong menuju bilik suara, membawa secarik kertas yang seakan sederhana, namun sesungguhnya ia adalah titipan amanah. Dalam hati mereka terpatri keyakinan bahwa […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Bangsa ini kembali berada di persimpangan sejarah. Seperti kapal yang diterpa badai, ia berlayar di tengah gelombang besar amarah rakyat. Semuanya bermula dari sebuah tragedi, seorang pengemudi ojek online yang gugur dalam unjuk rasa. Ia bukan pejabat, bukan tokoh besar, hanya rakyat kecil yang berjuang di jalanan […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Di tengah riuh kota yang lampunya memantul pada genangan hujan ekonomi, spanduk-spanduk yang berkibar bukan lagi sekadar kain yang terikat pada bambu. Mereka adalah wajah dari kecemasan kolektif, simbol dari amarah yang lama terpendam. Di sisi lain republik, kursi empuk, gedung berlampu kristal, dan pidato puitis yang […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Pernahkah kita bertanya, siapa sebenarnya yang diuntungkan dari setiap kekacauan yang menelan korban rakyat jelata? Apakah aspirasi rakyat yang tulus seringkali ditunggangi oleh tangan-tangan tersembunyi yang haus kuasa? Mengapa demonstrasi yang dimaksudkan untuk menyuarakan ketidakadilan justru berakhir dengan penjarahan, pengrusakan, dan tumpahnya darah orang tak berdosa seperti […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Mari sejenak kita berhenti dari kebisingan dunia, menutup gawai, menundukkan kepala, dan bertanya pada diri sendiri, apa yang lebih dulu padam dalam jiwa kita, rasa kasih kepada sesama, atau rasa takut kehilangan kepentingan pribadi? Saat jalanan dipenuhi amarah, apakah yang sejatinya kita tuntut adalah keadilan, atau sekadar […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Pernahkah kita berhenti sejenak di tengah gegap gempita kekuasaan dan bertanya , Apakah kekuasaan yang kita genggam masih bernafas sebagai amanah, ataukah telah menjelma menjadi singgasana kesombongan? Apakah suara rakyat di jalanan kita dengar sebagai ancaman, ataukah kita maknai sebagai doa yang mengetuk pintu langit? Apakah air […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Agustus seharusnya menjadi bulan penuh syukur. Bulan ketika rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan, mengenang perjuangan para pendiri bangsa, mengibarkan bendera dengan bangga, dan menikmati buah kebebasan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata. Namun, ironi menyayat, Agustus 2025 bukan bulan perayaan, melainkan bulan kegelisahan. Bukan bulan persatuan, melainkan […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Pernahkah kita menatap cermin pada jam-jam paling sunyi, lalu bertanya, untuk apa tubuh ini diciptakan, untuk dimuliakan atau diperjualbelikan? Untuk apa hasrat dititipkan, untuk dijaga atau dijadikan komoditas? Maukah kita menukar sekelebat kenikmatan dengan kehancuran jangka panjang, pada diri, keluarga, dan bangsa? Di kota-kota yang terang benderang, […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Pernahkah engkau duduk sendiri di malam yang sunyi, ketika dunia terlelap dan hanya suara hatimu yang berbicara? Pernahkah engkau bertanya: Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku mencari harta? Untuk siapa aku bekerja? Apakah untuk sekadar memenuhi ego, ataukah untuk menebar maslahat? Apakah tangan-tangan kita telah jujur […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Pernahkah kita duduk sejenak dalam hening, lalu bertanya kepada diri sendiri, apa arti sebuah hidup bila tubuh kita dipenjara oleh racun yang melumpuhkan akal? Apa arti sebuah bangsa merdeka, bila generasi mudanya terikat oleh rantai candu bernama sabu-sabu dan narkoba? Masih adakah masa depan, bila anak-anak kita […]Read More