Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar Pernahkah kita berdiri di depan cermin sebelum fajar, ketika kota atau dimana kita berdomisili masih terbungkus embun, lalu bertanya tanpa berkilah, apakah Garuda di dadaku hanya simbol di kain atau sudah menjadi denyut di nadi? Apakah ia sekadar hiasan di dada, atau telah menuntun cara kita memandang […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar Pernahkah kita berhenti di tepi malam, menenangkan dada, lalu bertanya, adakah keputusan-keputusanku selama ini lahir dari kejernihan atau sekadar dorongan yang menyeret? Ketika kabar datang bagai angin dingin di kulit tapi tak jelas asalnya, apakah aku memeriksa arah, atau justru membiarkan diri tertiup entah ke mana? Saat […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Pernahkah kita berhenti sejenak, menutup mata, lalu bertanya kepada diri sendiri, apakah aku benar-benar hidup sesuai pilihan nurani, ataukah sekadar menjadi bidak yang digerakkan sistem dan kekuasaan? Pernahkah kita merasa bahwa suara hati kita hanyalah gema di ruang kosong, tak terdengar oleh dunia yang sibuk dengan aturan-aturan […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar Pernahkah kita berhenti sejenak, menatap cermin jiwa, dan bertanya pada diri sendiri: untuk apa kita hidup, dan untuk siapa kita rela mati? Apakah semangat yang mengalir dalam darah kita lahir dari kebijaksanaan yang matang, atau hanyalah amarah yang meledak tanpa kendali? Apakah setiap langkah perjuangan yang kita […]Read More
JAKARTA — Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo memberikan penghargaan berupa uang pembinaan sebesar Rp 50 juta kepada pebalap muda asal Manokwari, Papua Barat, Boanerges Ratag. Remaja berusia 16 tahun ini mencetak sejarah dengan meraih gelar juara dunia endurance pertama untuk Indonesia di ajang […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah arti sebuah kemerdekaan, bila hati masih terpenjara oleh “aku” yang tak henti-hentinya merasa paling benar, paling berhak, dan paling utama? Apakah bangsa ini sungguh-sungguh merdeka, bila anak-anaknya masih lebih sibuk memperjuangkan kursi dan kepentingan pribadi, dibanding menegakkan keadilan dan kemaslahatan […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar Delapan puluh tahun sudah negeri ini menegakkan panji kemerdekaan. Delapan puluh tahun sejak tangan-tangan pejuang menorehkan sejarah dengan tinta darah dan air mata. Namun mari kita bertanya dengan jujur pada hati kita: Apakah kita benar-benar telah merdeka? Apakah makna merdeka hanya sekadar terbebas dari Belanda dan Jepang, […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar Pernahkah kita duduk sejenak dalam keheningan, lalu bertanya pada hati nurani yang paling jujur, apakah kemerdekaan yang diwariskan oleh para pejuang bangsa ini telah benar-benar menghadirkan kesejahteraan yang merata, ataukah ia masih sekadar bendera yang berkibar tanpa mampu menghapus jerit rakyat kecil? Apakah pajak yang dipungut dari […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar Pernahkah kita duduk di malam yang sunyi, menatap bendera berkibar di tiang, dan bertanya pada diri sendiri, Apakah kita sungguh merdeka? Apakah kemerdekaan yang kita rayakan setiap 17 Agustus hanyalah seremonial yang indah, parade yang meriah, lagu yang mengalun, sementara hati kita masih terpenjara oleh kebohongan, ketakutan, […]Read More
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar Pernahkah kita duduk sendiri, dalam diam, lalu bertanya kepada hati dan nurani kita : Mengapa bangsa yang merdeka ini sering kali tidak terasa merdeka? Mengapa di tengah bisingnya lagu kemerdekaan, jiwa kita masih sunyi dalam kegelapan ilmu? Mengapa di balik sorak-sorai perayaan 17 Agustus, kita masih merasakan […]Read More